Cerpen "Uap di secangkir teh"
Uap
di secangkir teh
Malam yang dinggin dengan angin yang
seakan-akan membisik telinga, membuat ku merasa berada didekapaan masa lalu
yang begitu indah, tak sadar dengan secangkir teh hijau panas dengan aroma khas
yang semakin membuatku kembali kemasa bahagiaku dulu “Putih Abu”. Yah, putih
abu (SMK) adalah masa yang paling bahagia bagiku, mungkin termasuk kamu? Iya
kamu? aku yakin 98% dari mereka mengatakan masa paling indah adalah putih abu.
Pikir ku kalau ada sebagian dari mereka yang berfikir masa putih abu itu tidak
menyenangkan itu terkhusus bagi mereka yang membuang kebahagiaan yang nyata dan
original dimana tidak ada istilah loe-gue, tidak ada istilah perbedaan taraf
atau kedudukan, tidak ada istilah perbedaan rupa, dan lain sebagainya dan
meskipun kita berbagaimacam sifat,karakter maupun hobby yang aku tau
kebahagiaan masa putih abu hanya ada kita yang sama dan kita yang apa adanya.
Lamunanku beranjak pada kegiatan setiap
pagi di waktu SMK atau putih abu dimana bagi mereka yang mendapatkan jadwal
piket wajib berangkat pagi. Teringat itu, teringat pula aku punya jadwal pada
hari senin, sialnya aku orang yang kudis (kurang disiplin) jadi selalu telat
. Bergegas lari dari parkiran ke kelas menyapu dengan cepat
kilat agar tak tertinggal upacara, saat upacra pun aku cari tempat di samping
teman yang tinggi dengan tujuan berlindung di bayang-banyang teman agar tidak
panas sembari sesekali jongkok. Selesai
upacara bukannya masuk kekelas aku dan rombongan kelas selalu mampir di kantin
sembari minum untuk menhilangkan rasa dahaga, kemudian kita semua berlarian
kekelas. Terkadang meski kita semua sudah berada di dalam kelas dan ada guru yang
mengajar, aku menyimpan jajan di kolong meja dan memakannya dengan cara curi-curi
pandang dari guru sering kali aku dan teman yang lain beranjak keluar kelas
satu persatu dengan ijin pergi ke kamar mandi, padahal sih nyangkol di kantin
(itu sudah sangat membudaya bagi kami) Tidak ada istilah lapar atau haus pada
masa ini selagi ada teman, sering kali kelas kami mampir di kantin “Bunda” selain
masaknnya yang lezat harganya juga minim 3000-5000 per porsi, kalau untungnya
makan di bunda bisa ambil kerupuk sesuka hati. Diibaratkan kantin adalah markas
kedua setelah kelas atas bengkel. Yah kelas atas bengkel dan bengkel praktiknya
berada di bawah kelas, karena aku masuk di SMK dengan jurusan Kriya kayu sering
mengerjakan praktik, akan tetapi pada setiap penutupan praktik pasti ada agenda
bersih-bersih, banyak dari teman-teman yang kabur ke markas pertama yaitu kelas
atas di bengkel termasuk aku, yah itu tempat langganan kita bersembunyi agar
tidak ikut berih-bersih dengan alasan
malas, cape kotor dan lain-lain. Dimarkas pertama inilah sering dijadikan
tempat untuk beristirahat entah untuk sembunyi ataupun untuk tiduran.
Setiap hari pula sering terdengar teriakan dalam kelas baik cewe maupun
cowo yang merasa kehilangan entah pensil, bolpoin, penghapus, penggaris dan
lain sebagainya. (woy siapa yang betrik pensil ku!!!/penggaris aku dibetrik
woy!!! (dan lain sebagainya)).Yah di kelasku banyak anak yang jahil jadi bisa
disebut kelasku rawan dan tidak aman (hehehe). Kalau penghapus maupun pengaris
tidak hilang pasti dimutilasi (masih mending lah ada yang tersisa ketimbang di
betrik). Dibetrik adalah istilah dari kelas kita yang artinya mengambil tanpa
sepengetahuan atau meminjam tanpa ijin (ok, itu sama saja mencuri). Akan tetapi
itu tidak menjadi permasalahn yang serius untuk dijadikan sebagi bahan
permusuhan. Karena kita semua sadar kita memiliki banyak teman yang berbagai macam
karakter,jenis dan lain sebagainya ada
yang hobby tidur, makan, garuk-garuk, jail, sensitif, jorok, si bersih, si bijak, si
dewasa, si kekanak-kanakan, pengambek, si cengeng, si egois dan masih banyak
lainnya dan kita semua bisa menerima dengan adanya perbedaan tersebut. Dimasa
ini kita juga kompak dalam segala hal mengenai makan atau jajan, menjenguk guru
yang sakit atau teman yang sakit, bahkan iuran utnuk teman yang ditilang oleh
polisi. Semua hal yang kecil atau besar kita selesaikan bersama-sama karna kita
sudah merasa satu saudara tanpa ada batasan aku kamu.
Tersentak lamunanku buyar gara-gara teh yang kuangat ternyata miring dan
tumpah mengenai tangan kiriku yang ternyata sudah hangat dan tak perluku
ditiup. Sembari meminum teh hanggat aku pun tertawa kecil mengenang masa “Putih
Abu” yang begitu indah. Semua itu begitu
saja terlewati aku kangen untuk menikmati kenangan itu, kangen itu begitu dalam
kurasankan ijin sejenak untuk memutar kenangan, karna aku tau itu tidak akan
ada lagi dan tak akan terulang kembali. Karena yang indah cukup dikenang dengan
hati yang kuat.
Komentar
Posting Komentar